pagi ini ketika sedang menikmati sarapan pagi di warung kecil biasa saya menyantap sarapan pagi, mata saya terbelalak pada sosok lelaku paruh baya yang dengan sekuat tenaga menarik gerobak sampah berisi timbunan penuh sampah. Saking beratnya, lelaki itu sering - sering berhenti, menurunkan lengan…
Yuk, silahkan kalo ada yang ingin ikut berbagi, boleh baca tulisan ini dan memberikan sedikit rejekinya untuk para pahlawan kebersihan kota. Allah yang membalas. :)
(via kurniawangunadi)Nasihat kyai Rais dalam Rantau 1 Muara - A.Fuadi
Oki Setiana Dewi dalam Melukis Pelangi
Oki Setiana Dewi dalam Melukis Pelangi
Setiap manusia memiliki masa lalu. Ada noktah-noktah hitam di perjalanan hidupnya. Tapi, masa lalulah yang membuatnya seperti ini. Terus-terusan memikirkan kesalahan masa lalu akan membunuh masa depan. Bukankah semua orang berhak diberi kesempatan? yang terpenting adalah masa kini dan masa yang akan datang. Allah tidak melihat masa lalu. Ketika seorang hamba sudah bertobat, tentu Allah akan mengampuninya dan memberikan kenikmatan iman kepadanya.
-Oki Setiana Dewi dalam Melukis Pelangi-
Orang yang cita-citanya tertuju pada dunia saja, urusannya akan Allah cerai-beraikan, kemiskinan senantiasa terbayang di pelupuk matanya, sementara dunia yang mendatanginya hanya sebatas yang Allah tetapkan baginya. Dan siapa saja yang cita-citanya tertuju pada akhirat, pasti Allah beri keteguhan pada kesatuan jiwanya, kekayaan selalu melekat dalam hatinya, sementara dunia justru mendatanginya dengan pasrah.
-HR Ibn Majah-
Oki Setiana Dewi dalam Melukis Pelangi
Entah sudah berapa kali aku membaca kisah-kisah cinta yang mengaharu biru, sudah berapa kali pula menonton film-film tentang romantisme dua insan manusia. Sepertinya tema cinta itu akan abadi sepanjang masa ya. Setiap penggal cerita cinta memang selalu ada yang menarik untuk kita simak. Meskipun bila ditelisik lebih jauh ternyata kisah-kisah itu terkadang hanya imajinasi-imajinasi pembuatnya.
Sementara itu, jika kita mau membuka mata, kisah-kisah cinta orang di sekitar kita itu lebih nyata. Mereka tidak hanya sekedar bertutur peristiwa demi peristiwa, tetapi mereka menampilkan secara nyata, tanpa skenario, tanpa reka-reka. Aku pikir, yang demikian yang lebih layak untuk kita ambil pelajaran, yang dapat kita jadikan inspirasi, cerminan, dan pelajaran untuk masa depan.
Kisah cinta ayah dan ibu salah satu contohnya. Sebagai putra putri yang beranjak dewasa, tak jarang orang tua berbagi kisah cinta pada anaknya, seperti yang sering dituturkan ibu padaku, putri satu-satunya ini.
Suatu hari ibu bilang padaku betapa bersyukur dan bahagianya memiliki suami seperti ayahku. Bagi ibu, ayah adalah sosok penyabar, penyayang, bertanggung jawab, dan cinta pada keluarganya.
Aku tidak heran dengan apa yang dikatakan ibu. Karena aku dapat melihat dengan mata kepala sendiri betapa luar biasa cara ayah menyayangi ibu. Menurutku ibu adalah sosok yang sangat manja. Segala hal ingin dilakukan bersama ayahku, hehe. Seperti ingin dijemput, dipijat, dan di antar kemana-mana.
Suatu ketika ibu pernah nitip pesan, “nduk, kalo bapak udah pulang suruh jemput ibu kondangan di tempat bu X, atau suruh jemput pengajian di tempat Y”. Aku pikir ibu sangat manja lah, kan bisa pulang naik angkot, kasihan ayah, capek-capek pulang kerja masih suruh jemput-jemput. *Tapi aku hanya berani berbisik dalam hati, tak berani mengungkapkannya pada ibu.
Aku tunaikan amanah sebaik yang aku bisa. Ketika aku melihat mobil ayah memasuki pagar rumah, aku segera keluar dan memberi tahu ayah untuk menjamput ibu. Tanpa pikir panjang, biasanya ayah akan mengatur kembali setir mobilnya, dan bergegas menjemput ibu. Aku cuma geleng-geleng kepala: mau-maunya :D
Sepanjang usiaku, aku juga tak pernah sekalipun melihat ayah ibu berantem hebat, sampai banting-bantingan barang pecah belah, atau tampar-tamparan seperti yang sering dikisahkan cerita-cerita kekerasan rumah tangga itu. Perselisihan pasti pernah ada, tetapi hanya berkaitan hal-hal kecil, seperti ibu yang sangat disiplin terhadap kebersihan dan kerapian, sementara ayah kadang teledor, tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kadangkala hal ini membuat ibu sedikit cerewet, tetapi hebatnya, ayah diam saja. Maka pertengkaran pun dapat terhindarkan.
Selebihnya, ayah juga selalu punya inisiatif yang menurutku dapat meluluhkan hati. Suatu ketika pukul 8 malam. Saat itu gerimis urung berhenti, sedangkan ibu pengajian di mushalla yang terletak sekitar 500 m dari rumah bersama ibu-ibu satu RT. Aku lihat ayah mengambil payung dari garasi, lalu beliau berkata, “Bapak tak jemput ibu dulu ya, melaske..hujan“.Lalu di tengah gerimis itu beliau berjalan kaki menjemput ibu ke mushalla. Padahal aku yakin, ibu masih bisa pulang bareng tetangga-tetangga lainnya.
Aku juga pernah melihat ayah menangis karena ibu. Saat itu ibu tergeletak tak sadarkan diri di rumah sakit, pasca kuret untuk membersihkan kandungannya. Kami duduk berdua di samping ranjang ibu. Ayah hanya diam membisu, tetapi kulihat dari sudut-sudut matanya keluar butiran-butiran air mata. Mungkin air mata itu menunjukkan betapa dalamnya perasaan ayah.
Di sisi lain ibu juga adalah sosok yang sangat mencintai ayah dengan caranya sendiri. Ibu akan bangun paling pagi untuk memasak, agar ayah dapat selalu sarapan sebelum berangkat kerja. Ibu akan selalu siap dengan teh hangat dan cemilan-cemilannya untuk menyambut ayah pulang kerja. Ibu juga yang paling sigap untuk menjahit kancing atau sobekan kecil pada baju ayah, bahkan ibu juga akan berada pada garda terdepan untuk membeli pakaian-pakaian ayah, karena menurut ibu, ayah tidak bisa memilih pakaian yang pas untuk dirinya sendiri.
Hebatnya lagi, kini saat mereka hanya tinggal berdua di rumah, sepertinya mereka sangat menikmati kebersamaannya. Setiap aku pulang ke rumah pasti aku akan mendengar ibu bilang, “Kemarin ibu nyobain maem di tempat X, beli bakmi godhog di tempat Y dll”, dan aku hanya menimpali, “wah saiki ibu gaul, wisata kulineran mulu”, dan ibu menjawab, “Bapak kok yang ngajak”. Dahiku berkerut sambil berbisik dalam hati: sepertinya aku yang jauh lebih muda kalah deh dengan ayah dan ibu :)
Jujur aku bersyukur sekali terlahir dalam keluarga yang sangat harmonis. Aku bisa tumbuh berkembang dengan baik, tak pernah sedikitpun ada luka maupun trauma yang tergores karena kisah pahit keluarga. Maka kadang aku sedikit heran jika ada teman yang bercerita tentang perceraian, tentang adanya wanita idaman lain, yang membuat kekisruhan dalam rumah tangga. Jika kebahagiaan dan generasi yang baik bisa tercipta dengan keharmonisan, kasih sayang, setia pada pasangan, kenapa memilih jalan yang neko-neko ya? Ah manusia..
Sungguh aku belajar banyak dari ayah dan ibu. Mereka memberi contoh nyata tentang bagaimana membentuk keluarga bahagia. Aku berharap keluargaku kelak minimal setara dengan mereka, atau mungkin jauh lebih baik. Aku ingin kelak membentuk keluarga yang jauh lebih harmonis dan berkualitas. Karena yang demikian dapat menciptakan lingkungan yang baik, lingkungan yang baik akan membentuk pribadi anak-anak yang baik pula. InsyaAllah..
Surakarta, 12 Mei 2012
Oki Setiana Dewi dalam Melukis Pelangi